Yohanes Eka Chandra Sambarlangit : ILMU SEJATI

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit sering mendapatkan pertanyaan, “Ki, apa itu ilmu sejati”. Tentu saja pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab, tetapi bukan berarti tidak ada jawabannya.

Jika waktu, tempat, dan kondisinya tepat, maka Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit pasti mau menjawabnya. Dalam kesempatan yang pas dan tepat, saya berhasil mendapat wejangan yang sangat berharga dari beliau.

“Sangkan Paraning Dumadi”. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit memulainya dengan memberikan idiom Jawa yang sudah sangat mengendap dalam jiwa manusia Jawa. Sangkan paraning dumadi memang sering dianggap sebagai ilmu sejati. Tetapi jabaran terhadap idiom tersebut yang sangat sukar.

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit mengatakan bahwa sangkan paraning dumadi berhubungan dengan proses penciptaan manusia dalam skala mikro, dan proses penciptaan alam semesta dalam skala makro. Bila dihubungkan dengan agama langit atau pun fisika kontemporer saat ini, Jawa memiliki postulat, atau bahkan mungkin sudah mencapai level aksioma.

Menurut sejarah, riwayat, dan kepercayaan orang Jawa, manusia Jawa diciptakan oleh para Bathara dan Bathari. Secara garis besar, manusia memiliki delapan unsur, karena ada delapan Bathara atau Bathari yang ikut serta dalam proses penciptaan manusia. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit mengisahkan bahwa manusia dibuat dari bahan dasar tanah. Tanah yang digunakan adalah tanah yang ada di pulau Jawa, tepatnya di daratan gunung Bromo.

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit juga menambahkan bahwa sembilan Bathara dan Bathari yang dimaksud adalah Sang Hyang Bathara Ismaya atau juga sering disebut dengan Sang Hyang Bathara Kartika. Beliau mewakili sifat bintang. Kemudian Sang Hyang Bathara Brama yang mewakili sifat api.

Sifat langit atau angkasa diwakili oleh Sang Hyang Bathara Indra. Kemudian sifat matahari tentu saja diwakili oleh Sang Hyang Bathara Surya. Kemudian Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit juga menambahkan bahwa sifat bulan yang lembut dinaungi oleh Sang Hyang Batahari Ratih. Sifat angin diwakili oleh Sang Hyang Batara Bayu.

Dua Bathara berikutnya adalah Sang Hyang Bathara Baruna yang mewakili sifat air, dan Sang Hyang Bathara Wisnu yang mewakili sifat tanah.

Mengenai proses penciptaan manusia, Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit menjelaskan bahwa Sang Hyang Bathara Brama-lah yang pertama kali menciptakan manusia. Karena Sang Hyang Bathara Brama mewakili sifat api, maka manusia ciptaannya terlalu gosong dan suhunya sangat panas, sehingga hanya mampu hidup di daerah yang dingin.

Lanjut Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit, kemudian Sang Hyang Bathara Wisnu juga menciptakan manusia. Manusia ciptaan Sang Hyang Bathara Wisnu ini lebih baik dan sempurna. Maka ada dua jenis manusia yang diciptakan. Seiring masa berlalu, kedua jenis manusia tersebut bertemu, bercampur baur, dan berketurunan hingga saat ini.

Berdasarkan kisah sejarah dan riwayat yang diceritakan dalam pewayangan tersebut, maka manusia harus ingat darimana ia berasal. Siapa yang menciptakan. Kemudian harus bersikap seperti apa terhadap yang menciptakan. Lalu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh seluruh orang di dunia, “untuk apa saya diciptakan?”. Itulah inti dari ilmu sejati, ingat asal usulnya. Orangtua, kakek-nenek,  nenek moyang, bila ditelusur hingga ke manusia ciptaan Sang Hyang Bathara Brama dan Sang Hyang Bathara Wisnu, maka kita wajib paham dan mengerti, pungkas Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit sembari menutup percakapan yang membekas dalam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s