Sebuah Piano dan Yohanes Chandra Eka Jaya

Setiap orang pasti memiliki hobi. Bahkan ada juga orang yang memiliki hobi lebih dari satu. Secara garis besar, hobi dapat dibedakan menjadi lima kategori, yaitu seni, lingkungan, aktivis, penulisan, dan dagang. Setiap kategori pun mempunyai bermacam-macam jenis dan cabang. Kali ini penulis ingin menceritakan kisah tentang sebuah piano dan pemiliknya, yaitu Yohanes Chandra Eka Jaya.

Yohanes Chandra Eka Jaya berkenalan dengan piano pada saat berusia 3-4 tahun. Ia diajari bermain piano oleh ibunya. Saat masih kecil ia hanya memainkan lagu-lagu pada umumnya, seperti Twinkle-Twinkle Little Star, Bintang Kecil, Nina Bobo, dan sebagainya.

gorgeous-piano-key-background-vector-66878

misik-cinta-yohanes-ekajaya

yohanes-chandra-eka-jaya-cinta

Pada awalnya Yohanes Chandra Eka Jaya belumlah tertarik kepada alat musik yang bernama piano. Saat itu ia hanya berlatih dan bermain piano karena disuruh oleh kedua orang tuanya terutama ibunya.

Tetapi seiring bertambah usia, dari acara-acara televisi yang menampilkan konser piano tunggal, serta dari konser-konser para pianis yang terkenal, membuat Yohanes Chandra Eka Jaya semakin rajin berlatih piano.

Mulai dari komposisi-komposisi ciptaan Wolfgang Amadeus Mozart, Beethoven, Johann Sebastian Bach, dan sebagainya sudah dikuasai oleh Yohanes Chandra Eka Jaya. Setelah menguasai dan memahami pola komposisi barat, Eka Jaya mulai bosan. Sebab setelah mengerti tentang musik, ia pun lantas memahami bahwa sebenarnya musik barat telah “mati” pada era 60-an.

Oleh sebab itu, musisi barat mulai mencari kebijaksanaan daerah timur seperti India, Balkan, Tiongkok, Jepang, dan sebagainya untuk menumbuh kembangkan lagi dinamika dan progresivitas musiknya. Hal itu juga yang menyebabkan Yohanes Chandra Eka Jaya berpaling ke daerah timur untuk semangat dan jiwa musiknya.

Alat musik yang ia gunakan, yaitu piano, pun juga dibuat dari peradaban timur Andalusia. Yohanes Chandra Eka Jaya mengatakan bahwa sebenarnya awal mula tangga nada atau musik bertujuan untuk penyatuan diri dengan semesta atau suatu hal yang transendental. Tetapi karena terjadi benturan kepentingan, diciptakanlah musik pop untuk menggeser kebudayaan luhur musik transenden. Atas dasar itulah Yohanes Chandra Eka Jaya ingin bermain piano dengan memasukkan kebijaksanaan leluhur dalam permainannya.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s